Rabu, 02 Maret 2016

Cerpen

Sahabat

                Sudah lama aku merasa jengkel pada Rasti. Tingkah lakunya membuat aku sebal. Dengan kelihatan lemah membuat dia selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Baju yang lusuh, muka yang lesu, dan nilai-nilai yang rendah membuat dirinya menjadi siswa yang kurang disenangi di kelas ini.
                Berbeda dengan Bu Sirah. Sebagai wali kelas dia terlalu perhatian pada Rasti. Berlebihan sekali! Aku sering melihat Bu Sirah merangkul Rasti, memberi makanan dan yang paling tidak kusenangi adalah ketika Bu Sirah membela Rasti saat yang lain iseng terhadapnya.
                Puncak kekesalanku terjadi pada hari ini. Bu Sirah meminta Iin, sahabat sekaligus teman sebangkuku selama beberapa tahun, untuk pindah tempat duduk sebangku dengan Rasti. Menurutnya, Iin pasti bisa membantu Rasti untuk mengejar ketinggalannya dalam beberapa pelajaran.
                Iin sangat baik. Dia selalu siap membantu siapapun. Aku tidak suka duduk sendiri. Rasti yang selalu duduk sendiri kan sudah terbiasa, berbeda dengan aku. Hah… aku merasa jadi korban!
                “In, kenapa kamu mau sih sebangku dengan Rasti? Aku kan pasti akan kesepian kalau duduk sendiri! Agak kesal aku mencoba protes pada Iin.
                “Ra, Bu Sirah benar! Kita harus membantu Rasti. Kasihan dia. Selama ini tidak ada satu pun yang mau dekat dengan nya. Setidaknya dengan Rasti duduk dengan aku mungkin dia akan lebih baik. Aku yakin dia tidak akan berbuat aneh saat mempunyai teman. Yuk, bantuk aku juga Ra! Jadi temannya juga, “ Wajah Iin yang baik itu memandang dengan penuh harapan. “Aku butuh bantuanmu juga Tiara! Aku tidak akan sanggup sendiri!”
                Kuhela nafas panjang sambil mengangguk pelan. Kalau bukan karena Iin, mana mungkin aku mau berteman dengan Rasti yang aneh itu! Aku memandangi wajah Iin sahabatku sambil mengingat-ingat kembali persahabatan kami. Dulu aku juga orang yang tidak disukai. Selalu cemberut dan memasang wajah tak bersahabat. Tidak ada yang mau dekat-dekat denganku, sampai suatu hari Iin masuk dan duduk sebangku denganku. Setelah itu cerita jadi lain sama sekali. Kebaikan hati Iin rasanya menular kepadaku. Kami berdua selalu disukai semua teman. Nilai-nilaiku juga meningkat semua. Aku jadi suka belajar karena seorang sahabat yang bernama Iin. Aku tidak mungkin menolak permintaannya, fikirku agak enggan.
                Rasti adalah cerita lain. Waktu dia masuk dulu, kami semua sekelas tidak suka padanya. Bau badannya menyebar di kelas kalau dia sudah masuk kelas. Sikap yang seolah tak butuh teman selalu menjadi bahan olok-olok kami semua. Pernah satu kali Iin mencoba berteman dengannya. Pelan-pelan Iin mendekati Rasti, aku yang membuntuti di belakang tidak menyangka mengapa Iin sangat baik?
                “Hai Rasti, yuk kita main lompat tali bersama! Kami berdua butuh teman! Yuk!” Dengan senyum hangat Iin mengulurkan tangannya.
                “Aku tidak suka main! Jangan ganggu aku!” Aku menahan marah. Rasti bersikap seolah-olah kami datang untuk mengganggunya. Padahal kami hanya mencoba berteman. Kutarik Iin menjauh dan bertekad tidak akan membiarkan Iin mendekati Rasti lagi.
                Huh, kalau teringat kejadian itu, ingin rasanya aku berteriak untuk mengingatkan Iin. Apa dia sudah lupa dengan sikap kurang ajar Rasti? Kulihat Iin yang sekarang duduk sebangku dengan Rasti. Mereka sedang asyik berbicara, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Aku merasa penasaran.
                Aku selalu melihat Rasti bersama dengan Iin. Sudah sebulan ini mereka semakin akrab saja. Aku tidak tahu harus sedih atau gembira dengan perubahan Rasti. Dia memang sudah tampak lebih bersih dan selalu gembira, tapi Rasti selalu bertingkah berlebihan di depanku. Mungkin dia sengaja membuatku merasa iri atas kedekatannya dengan Iin. Sampai sekarang aku belum bisa menerima Rasti.
                “Tiara!” suara Iin menghentikanku dari lamunan. Kulihatnya berlari-lari menuju ke arahku. Rasti mengikutinya dengan susah payah. “Tugas akhir bahasa nanti kamu mau buat apa, Ra? Kalau kami berencana ingin membuat sebuah drama!”
                “Kamu ikut kami yuk, Ra! Dramanya sudah ada, tapi butuh satu orang lagi!” dengan mata berbinar-binar Rasti menatapku dengan penuh harap. Ah, aku tidak suka mata itu, tidak suka senyumnya, tidak suka semua yang ada pada Rasti.
                “Maaf In!” tak kupedulikan Rasti sama sekali, “Aku mau buat cerpen dan bercerita di depan kelas. Itu sudah kurencanakan dengan matang.”
                Dengan mantap aku menggelengkan kepala. Terlihat wajah Iin tersenyum mengangguk, namun wajah Rasti terlihat mendung. Kasihan juga, bisikku dalam hati.
                Aku jadi benci diriku sendiri yang tidak bisa jadi orang sebaik Iin. Mengapa aku tega terhadap Rasti ya? Entahlah, aku hanya tidak suka kepadanya. Atau aku tidak suka dia dekat dengan Iin? Entahlah……
                Tiba saatnya ujian akhir praktek Bahasa Indonesia. Semua siswa kelas 6 harus mengarang sesuatu dalam bentuk tulisan dan mempresentasikannya di panggung sekolah. Aku membuat karangan yang bagus sekali, itu menurut teman-teman dan guruku. Ketika bercerita di depan mereka semua, kutatap wajah Iin bangga. Tak sengaja aku melihat wajah Rasti. Wajahnya terpana penuh rasa kagum. Aku jadi merasa bersalah.
                Iin dan Rasti tidak jadi menulis drama.  Melainkan, Iin membuat sebuah pidato tentang pentingnya menghargai orang lain. Cara Iin berpidato sangat bagus. Aku sungguh kagum pada sahabatku itu. Sedangkan Rasti membuat Puisi. Ketika tiba gilirannya, Rasti maju dengan langah gemetar. Berhenti sebentar, menatapku, lalu melangkahkan kakinya menuju panggung. Mengapa dia menatapku? Perasaanku tidak enak.
                Setelah selesai berpuisi, semua orang kemudian terharu melihat penampilan Rasti. Banyak terdengar tepuk tangan ketika Rasti selesai membaca puisi. Dia membawakannya dengan penuh perasaan. Aku tidak tahu untuk siapa puisi itu, tapi hatiku terasa sakit. Aku benci pada diriku sendiri.
                Kulihat Rasti turun dengan penuh air mata di wajahnya. Dan kulihat Iin menyambutnya dengan hangat. Mataku semakin terasa panas, serta kerongkonganku tersekat. Kuhampiri mereka dengan tekad baru dalam hati. Akan menjadi sahabat yang baik bagi Rasti dan bagi semua yang membutuhkan. Aku berbisik dalam hati, ini aku sahabatmu!

 - Andi Tiara Febrianti


Tidak ada komentar:

Posting Komentar