Sahabat
Sudah
lama aku merasa jengkel pada Rasti. Tingkah lakunya membuat aku sebal. Dengan
kelihatan lemah membuat dia selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Baju
yang lusuh, muka yang lesu, dan nilai-nilai yang rendah membuat dirinya menjadi
siswa yang kurang disenangi di kelas ini.
Berbeda
dengan Bu Sirah. Sebagai wali kelas dia terlalu perhatian pada Rasti.
Berlebihan sekali! Aku sering melihat Bu Sirah merangkul Rasti, memberi makanan
dan yang paling tidak kusenangi adalah ketika Bu Sirah membela Rasti saat yang
lain iseng terhadapnya.
Puncak
kekesalanku terjadi pada hari ini. Bu Sirah meminta Iin, sahabat sekaligus
teman sebangkuku selama beberapa tahun, untuk pindah tempat duduk sebangku
dengan Rasti. Menurutnya, Iin pasti bisa membantu Rasti untuk mengejar
ketinggalannya dalam beberapa pelajaran.
Iin
sangat baik. Dia selalu siap membantu siapapun. Aku tidak suka duduk sendiri.
Rasti yang selalu duduk sendiri kan sudah terbiasa, berbeda dengan aku. Hah…
aku merasa jadi korban!
“In,
kenapa kamu mau sih sebangku dengan Rasti? Aku kan pasti akan kesepian kalau
duduk sendiri! Agak kesal aku mencoba protes pada Iin.
“Ra, Bu Sirah benar! Kita harus
membantu Rasti. Kasihan dia. Selama ini tidak ada satu pun yang mau dekat
dengan nya. Setidaknya dengan Rasti duduk dengan aku mungkin dia akan lebih
baik. Aku yakin dia tidak akan berbuat aneh saat mempunyai teman. Yuk, bantuk
aku juga Ra! Jadi temannya juga, “ Wajah Iin yang baik itu memandang dengan
penuh harapan. “Aku butuh bantuanmu juga Tiara! Aku tidak akan sanggup
sendiri!”
Kuhela nafas panjang sambil
mengangguk pelan. Kalau bukan karena Iin, mana mungkin aku mau berteman dengan
Rasti yang aneh itu! Aku memandangi wajah Iin sahabatku sambil mengingat-ingat
kembali persahabatan kami. Dulu aku juga orang yang tidak disukai. Selalu
cemberut dan memasang wajah tak bersahabat. Tidak ada yang mau dekat-dekat
denganku, sampai suatu hari Iin masuk dan duduk sebangku denganku. Setelah itu
cerita jadi lain sama sekali. Kebaikan hati Iin rasanya menular kepadaku. Kami
berdua selalu disukai semua teman. Nilai-nilaiku juga meningkat semua. Aku jadi
suka belajar karena seorang sahabat yang bernama Iin. Aku tidak mungkin menolak
permintaannya, fikirku agak enggan.
Rasti adalah cerita lain. Waktu
dia masuk dulu, kami semua sekelas tidak suka padanya. Bau badannya menyebar di
kelas kalau dia sudah masuk kelas. Sikap yang seolah tak butuh teman selalu
menjadi bahan olok-olok kami semua. Pernah satu kali Iin mencoba berteman
dengannya. Pelan-pelan Iin mendekati Rasti, aku yang membuntuti di belakang
tidak menyangka mengapa Iin sangat baik?
“Hai Rasti, yuk kita main lompat
tali bersama! Kami berdua butuh teman! Yuk!” Dengan senyum hangat Iin
mengulurkan tangannya.
“Aku tidak suka main! Jangan
ganggu aku!” Aku menahan marah. Rasti bersikap seolah-olah kami datang untuk
mengganggunya. Padahal kami hanya mencoba berteman. Kutarik Iin menjauh dan
bertekad tidak akan membiarkan Iin mendekati Rasti lagi.
Huh, kalau teringat kejadian
itu, ingin rasanya aku berteriak untuk mengingatkan Iin. Apa dia sudah lupa
dengan sikap kurang ajar Rasti? Kulihat Iin yang sekarang duduk sebangku dengan
Rasti. Mereka sedang asyik berbicara, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Aku merasa penasaran.
Aku selalu melihat Rasti bersama
dengan Iin. Sudah sebulan ini mereka semakin akrab saja. Aku tidak tahu harus
sedih atau gembira dengan perubahan Rasti. Dia memang sudah tampak lebih bersih
dan selalu gembira, tapi Rasti selalu bertingkah berlebihan di depanku. Mungkin
dia sengaja membuatku merasa iri atas kedekatannya dengan Iin. Sampai sekarang
aku belum bisa menerima Rasti.
“Tiara!” suara Iin
menghentikanku dari lamunan. Kulihatnya berlari-lari menuju ke arahku. Rasti
mengikutinya dengan susah payah. “Tugas akhir bahasa nanti kamu mau buat apa,
Ra? Kalau kami berencana ingin membuat sebuah drama!”
“Kamu ikut kami yuk, Ra! Dramanya
sudah ada, tapi butuh satu orang lagi!” dengan mata berbinar-binar Rasti menatapku
dengan penuh harap. Ah, aku tidak suka mata itu, tidak suka senyumnya, tidak
suka semua yang ada pada Rasti.
“Maaf In!” tak kupedulikan Rasti
sama sekali, “Aku mau buat cerpen dan bercerita di depan kelas. Itu sudah
kurencanakan dengan matang.”
Dengan mantap aku menggelengkan
kepala. Terlihat wajah Iin tersenyum mengangguk, namun wajah Rasti terlihat
mendung. Kasihan juga, bisikku dalam hati.
Aku jadi benci diriku sendiri
yang tidak bisa jadi orang sebaik Iin. Mengapa aku tega terhadap Rasti ya?
Entahlah, aku hanya tidak suka kepadanya. Atau aku tidak suka dia dekat dengan
Iin? Entahlah……
Tiba saatnya ujian akhir praktek
Bahasa Indonesia. Semua siswa kelas 6 harus mengarang sesuatu dalam bentuk
tulisan dan mempresentasikannya di panggung sekolah. Aku membuat karangan yang
bagus sekali, itu menurut teman-teman dan guruku. Ketika bercerita di depan
mereka semua, kutatap wajah Iin bangga. Tak sengaja aku melihat wajah Rasti.
Wajahnya terpana penuh rasa kagum. Aku jadi merasa bersalah.
Iin dan Rasti tidak jadi menulis
drama. Melainkan, Iin membuat sebuah
pidato tentang pentingnya menghargai orang lain. Cara Iin berpidato sangat
bagus. Aku sungguh kagum pada sahabatku itu. Sedangkan Rasti membuat Puisi.
Ketika tiba gilirannya, Rasti maju dengan langah gemetar. Berhenti sebentar,
menatapku, lalu melangkahkan kakinya menuju panggung. Mengapa dia menatapku?
Perasaanku tidak enak.
Setelah selesai berpuisi, semua
orang kemudian terharu melihat penampilan Rasti. Banyak terdengar tepuk tangan ketika
Rasti selesai membaca puisi. Dia membawakannya dengan penuh perasaan. Aku tidak
tahu untuk siapa puisi itu, tapi hatiku terasa sakit. Aku benci pada diriku
sendiri.
Kulihat Rasti turun dengan penuh
air mata di wajahnya. Dan kulihat Iin menyambutnya dengan hangat. Mataku
semakin terasa panas, serta kerongkonganku tersekat. Kuhampiri mereka dengan
tekad baru dalam hati. Akan menjadi sahabat yang baik bagi Rasti dan bagi semua
yang membutuhkan. Aku berbisik dalam hati, ini aku sahabatmu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar